Memahami Kepribadian Manusia Berdasarkan Psikologi Islam

INFOLOKA.COM-Psikologi Islam menawarkan pandangan yang komprehensif tentang kepribadian manusia, yang berakar pada Al-Qur’an dan Hadis. Pemahaman ini memungkinkan individu untuk mengeksplorasi dirinya secara lebih mendalam, baik dari segi spiritual maupun moral, sehingga dapat menciptakan keseimbangan dalam menjalani kehidupan.

Tipologi Kepribadian dalam Psikologi Islam

Tipologi kepribadian dalam psikologi Islam merupakan kerangka kerja yang bertujuan untuk menggali potensi manusia melalui pemahaman terhadap sifat-sifat jiwa. Penjelasan mengenai tipe-tipe kepribadian ini memberikan panduan praktis bagi umat Islam dalam mengelola kehidupan spiritual dan sosial mereka.

Kepribadian Manusia Berdasarkan Psikologi Islam


A. Ragam Kepribadian Manusia

Dalam psikologi Islam, jiwa manusia ("nafs") memiliki tiga elemen utama, yaitu qalbu, akal, dan nafsu. Kepribadian manusia merupakan hasil interaksi dari ketiga elemen tersebut, yang membentuk pola perilaku, emosi, dan pemikiran seseorang. Berdasarkan dominasi salah satu elemen, Abdul Mujib (2006) mengelompokkan kepribadian manusia ke dalam tiga tipologi utama:

  1. Kepribadian Amarah (Nafs al-Amarah)
    Kepribadian ini cenderung mengikuti tabiat jasad dan berorientasi pada prinsip kenikmatan (pleasure principle). Allah SWT berfirman dalam Surat Yusuf ayat 53:

    “…dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

    Ciri utama kepribadian amarah adalah dominasi nafsu yang mendorong seseorang pada perilaku rendah dan tercela, seperti syirik, kufur, riya’, nifaq, dan sebagainya. Orang dengan kepribadian ini sulit mengendalikan hawa nafsu, sering mengejar kesenangan duniawi tanpa mempertimbangkan nilai-nilai moral dan agama.

  2. Kepribadian Lawwamah (Nafs al-Lawwamah)
    Kepribadian ini berada di antara kepribadian amarah dan muthmainnah. Orang dengan kepribadian lawwamah memiliki kecenderungan untuk menyesali kesalahan dan memperbaiki diri. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam QS Al-Qiyamah ayat 2:

    “...dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).”

    Kepribadian lawwamah bersifat netral dan sangat tergantung pada pengaruh eksternal dan internal apakah akan condong pada kebaikan atau keburukan. Mereka sering berusaha menyeimbangkan antara keinginan duniawi dan tanggung jawab spiritual.

  3. Kepribadian Muthmainnah (Nafs al-Muthmainnah)
    Kepribadian ini adalah puncak dari kepribadian yang telah mencapai ketenangan jiwa karena memperoleh kesempurnaan cahaya qalbu. Allah SWT berfirman dalam QS Al-Fajr ayat 27-28:

    “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.”

    Orang dengan kepribadian ini memiliki iman yang kuat, kebersihan hati, dan hubungan yang erat dengan Allah. Mereka telah mampu mengendalikan hawa nafsu dan selalu berorientasi pada kebaikan.

B. Bentuk-Bentuk Kepribadian Menurut Abdul Mujib

Abdul Mujib (2006) mengklasifikasikan kepribadian manusia dalam Islam ke dalam tiga kategori utama, yaitu Kepribadian Mukmin, Kepribadian Muslim, dan Kepribadian Muhsin. Berikut penjelasannya:

1. Kepribadian Mukmin

Kepribadian Mukmin adalah kepribadian yang telah menginternalisasikan nilai-nilai keimanan secara mendalam. Kepribadian ini memiliki enam karakteristik utama:

  • Rabbani: Menginternalisasikan sifat-sifat Allah seperti kejujuran, kebenaran, kasih sayang, dan pengampunan. Seorang mukmin hidup dengan selalu menyadari kehadiran Allah dalam setiap aspek kehidupannya.
  • Malaki: Mencontoh sifat malaikat seperti kepatuhan, ketulusan, dan penghormatan kepada Allah. Mereka tidak hanya menjalankan ibadah wajib, tetapi juga senantiasa mendekatkan diri kepada Allah melalui amal ibadah sunnah.
  • Qurani: Menghayati nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Al-Qur’an menjadi pedoman utama dalam bertindak dan mengambil keputusan.
  • Rasuli: Meneladani sifat Rasulullah seperti amanah, tabligh, shidiq, dan fathanah. Mereka menjadikan Rasulullah sebagai figur panutan dalam kehidupan bermasyarakat.
  • Berwawasan Akhirat: Mengutamakan kehidupan akhirat dibandingkan duniawi. Mereka yakin bahwa dunia adalah tempat persinggahan sementara dan berusaha mempersiapkan bekal untuk akhirat.
  • Takdiri: Menyerahkan diri sepenuhnya kepada aturan Allah, termasuk menerima takdir dengan penuh keikhlasan tanpa kehilangan semangat untuk berikhtiar.

2. Kepribadian Muslim

Kepribadian Muslim mencerminkan pelaksanaan lima rukun Islam dalam kehidupan sehari-hari. Bentuk-bentuknya adalah sebagai berikut:

  • Syahadatain: Memiliki keyakinan yang kokoh terhadap keesaan Allah dan kerasulan Muhammad SAW. Hal ini tercermin dalam kehidupan sehari-hari melalui komitmen untuk menjalankan ajaran agama.
  • Mushalli: Senantiasa mendirikan salat dengan khusyuk. Salat menjadi sarana utama untuk berkomunikasi dengan Allah dan memperkuat ketenangan batin.
  • Shaim: Menjaga puasa untuk melatih pengendalian diri. Puasa tidak hanya melatih fisik, tetapi juga menanamkan nilai kesabaran dan empati kepada sesama.
  • Muzzaki: Rajin membayar zakat dan berbagi kepada sesama. Kepedulian sosial menjadi ciri khas seorang Muslim yang sejati.
  • Haji: Melaksanakan ibadah haji dengan niat tulus bagi yang mampu. Ibadah ini menjadi simbol totalitas penghambaan kepada Allah.

3. Kepribadian Muhsin

Kepribadian Muhsin adalah tingkatan kepribadian yang lebih kompleks dan mencakup dimensi spiritual yang lebih mendalam. Beberapa cirinya adalah:

  • Introspeksi Diri: Muhsin senantiasa mengevaluasi dirinya dan berusaha memperbaiki kekurangan yang ada.
  • Kerendahan Hati: Mereka tidak sombong meskipun memiliki kelebihan, baik dalam ilmu, harta, maupun kedudukan.
  • Ketekunan: Selalu bersungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah dan tanggung jawab duniawi.
  • Cinta kepada Allah: Segala aktivitasnya didedikasikan untuk mendapatkan keridhaan Allah.
  • Tawakal: Menggantungkan seluruh harapan hanya kepada Allah, tetapi tetap berusaha dengan maksimal.
  • Penyerahan Diri: Mengikhlaskan diri terhadap ketentuan Allah dan merasa cukup dengan apa yang telah diberikan-Nya.

C. Bentuk-Bentuk Kepribadian Menurut Najati

Utsman Najati (2005) membagi kepribadian manusia menjadi tiga kelompok besar, sebagaimana tergambar dalam QS Al-Baqarah ayat 1-20:

  1. Kepribadian Orang Beriman (Mu’minun)
    Ciri utama orang beriman adalah keyakinan yang kuat kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-Nya, hari akhir, dan qada/qadar. Mereka juga menunjukkan karakter rendah hati, sabar, jujur, dermawan, dan moderat dalam kehidupan. Orang beriman hidup dengan tujuan akhir untuk mendapatkan keridhaan Allah dan tempat yang mulia di akhirat.

  2. Kepribadian Orang Kafir (Kafirun)
    Orang kafir adalah mereka yang menolak keberadaan Allah dan sering kali mencemooh orang-orang beriman. Dalam Al-Qur’an, mereka digambarkan sebagai orang yang hatinya tertutup dari kebenaran. Mereka lebih mengutamakan kehidupan duniawi dan tidak memiliki kepedulian terhadap nilai-nilai spiritual.

  3. Kepribadian Orang Munafik (Munafiqun)
    Orang munafik berpura-pura beriman, tetapi hatinya penuh dengan keraguan. Mereka sering mengingkari janji, menipu sesama manusia, dan memiliki niat tersembunyi untuk merusak harmoni umat Islam. Allah mencela kaum munafik dalam banyak ayat Al-Qur’an karena kepura-puraan mereka yang menimbulkan kerusakan.

Tipologi kepribadian dalam psikologi Islam memberikan panduan holistik untuk memahami jiwa manusia berdasarkan prinsip-prinsip Al-Qur’an dan Hadis. Pemahaman ini tidak hanya membantu individu dalam memperbaiki diri, tetapi juga berkontribusi pada pembentukan masyarakat yang lebih baik berdasarkan nilai-nilai spiritual dan moral. Dengan mengenali tipe kepribadian, seseorang dapat lebih memahami kekuatan dan kelemahannya, serta berupaya untuk meningkatkan kualitas diri agar mendekati karakter ideal yang diajarkan dalam Islam. Kepribadian muthmainnah, mukmin, dan muhsin menjadi tujuan yang patut dikejar oleh setiap Muslim sebagai refleksi keberhasilan menjalankan perintah agama dengan penuh ketulusan.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama