> Sukses dari Street Food dengan Konsep Rice Bowl | infoloka.com

Sukses dari Street Food dengan Konsep Rice Bowl

Jika umumnya bisnis kuliner berkonsep rice food hanya dijumpai di restoran, kini banyak kuliner street food (makanan kaki lima) yang mengusung konsep rice bowl yang mampu menaikan penjualan. Salah satunya The Halal Boys. Brand yang didirikan Astrid Angeline ini berkonsep rice bowl karena simple dan praktis baik untuk makan di tempat (dine in) maupun dibawa pulang (take away). Hasilnya luar biasa, belum setahun berdiri The halal Boys telah memiliki 3 cabang dengan omset mencapai ratusan juta setiap bulan. Seperti apa perjalanan usaha wanita 27 tahun ini?

Beberapa tahun terakhir, bisnis kuliner Indonesia banyak dibanjiri makanan street food (pinggir jalan/kaki lima) dari berbagai negara. Tak jarang kuliner street food mendapat respons positif dari masyarakat, sebut saja The Halal Boys yang berdiri sejak Mei 2015. Meski belum genap setahun, The Halal Boys menawarkan kuliner cepat saji ini mampu menarik minat masyarakat berkat konsep rice bowl yang diusungnya. “pada dasarnya The Halal Boys bisa dibilang fast food, jadi agar memudahkan dalam penyajian saya memilih menggunakan konsep rice bowl,” ujar astrid Angeline.

Baca Juga : Bisnis Kuliner Rice Bowl, Puluhan Juta dalam Hitungan Bulan

Perempuan yang akrab disapa Astrid ini mengaku mendapatkan inspirasi merintis bisnis dengan bran The Halal Boys ketika tengah berlibur ke New York dan melihat streed food yang menawarkan nasi dengan pilihan lauk berupa ayam atau daging kambing. Melihat produknya unik dan belum ada di Indonesia mengusik jiwa Astrid untuk mendirikan usaha sejenis di Indonesia. “Selain itu menunya sendiri yaitu nasi merupakan makanan pokok bagi masyarakat Indonesia, jadi saya optimis makanan ini mampu diterima masyarakat,” ujarnya optimis.

Untuk mendirikan The Halal Boys Astrid mengaku menghabiskan modal sebesar Rp 500 juta yang digunakan untuk membeli semua peralatan usaha yang dibutuhkan. Sebelumnya Astrid dibantu oleh kakaknya melakukan uji coba resep dan test food selama 6 bulan sampai mendapatkan racikan yang pas. “Soal resep kita create sendiri karena kebetulan kakak saya hobi memasak, jadi setiap dia ketemu satu makanan yang baru pasti dia coba-coba bikin resepnya,” bungsu dari 3 bersaudara ini.

Berlokasi di bilangan Hang Lekir kebayoran Baru, Jakarta Selatan The Halal Boys menyasar segmentasi pasar pegawai kantoran dan mahasiswa di sekitar lokasi. Ternyata Astrid tidak salah pilih lokasi. Ternyata Astrid tidak salah pilih lokasi, pasalnya gerai The Halal Boys selalu ramai dikunjungi pelanggan. Bahkan 3 bulan setelah membuka outlet pertamanya, Astrid membuka gerai kedua yang berlokasi di Kemang, Jakarta Selatan dan baru-baru ini The Halal Boys kembali membuka cabang ketiga yang kali ini berlokasi di Kelapa Gading, Jakarta Utara.

The Halal Boys. Dari namanya saja kita dapat menebak kalua semua menu yang ditawarkan The Halal Boys tidak menggunakan bahan-bahan yang diharamkan oleh umat Islam. Astrid mengaku semua supplier bahan baku The Halal Boys telah memiliki sertifikat halal dari MUI. “Meskipun The Halal boys sendiri belum memiliki sertifikat halal dari MUI, tapi semua bahan baku yang saya gunakan sudah memiliki sertifikat halal dari supplier-nya. Kedepannya saya berencara mengurus sertifikat halal,” terangnya.

Ada 3 menu yang ditawarkan The Halal Boys yaitu Lam Over Rice, Chiken Over Rice, dan Half-Half Over Rice. Setiap menu yang ditawarkan The Halal Boys terdiri dari nasi kuning, daging sesuai pilihan, sayuran lettuce, pita bread, kemudian disiram dengan saus special dengan 3 macam pilihan yaitu white sauce, red sauce, dan brown sauce. Sedangkan untuk Half-half Over Rice sendiri berisi daging ayam dan domba dalam satu porsi. “makannya menu Half-Half Over Rice paling banyak digemari karena bisa nyobain dua-duanya,” terangnya.

Astrid menjelaskan nasi kuning yang digunakan terbuat dari beras basmati yang diimpor langsung dari India yang diolah dengan kunyit dan kuning telur. Menurut Astrid Beras Basmati memiliki beberapa keunggulan yaitu rendah kalori serta lebih kaya serat. Sedangkan daging ayam dan domba diolah dengan bumbu khas ala Timur Tengah. “Kita pernah coba pakai beras local, tetapi rasanya berbeda jika pakai berasa basmati,” ujarnya.

Sukses dari Street Food dengan Konsep Rice Bowl

Sukses dari Street Food dengan Konsep Rice Bowl

Kontainer Bekas. Semua pilihan menu The Halal Boys disajikan dengan konsep rice bowl. Astrid menggunakan mangkuk berupa cup karton kualitas food grade yang aman untuk makanan. Astrid menjelaskan alasan menggunakan rice bowl karena sangat praktis bagi pelanggan yang ingin makan di tempat atau take away untuk dinikmati di kantor atau rumah tinggal dihangatkan dalam microwave. “Operasionalnya juga lebih mudah karena tidak harus mencuci, begitu selesai dinikmati cup bisa langsung dibuang,” terangnya.

Selain mengusung konsep rice bowl, The Halal Boys juga mengusung tema outdoor. Astrid menggunakan container bekas yang disulap menjadi dapur sekaligus gerai The Halal Boys. Astrid menambahkan agar terlihat mencolok dan menarik perhatian masyarakat container tersebut di cat dengan warna dominan kuning yang terinspirasi dari warna taxi di New York. Tidak lupa Astrid juga menyediakan beberapa meja dan kursi bagi pelanggan yang ingin menikmati The Halal Boys di lokasi. “ Saya piker kurang pantas kalau menggunakan konsep resto, masa resto cuma ada 3 menu,” selorohnya.

Dengan harga jual yang cukup terjangkau yaitu sebesar Rp 55 ribu/cup untuk menu apa saja, The Halal Boys mampu menjual hingga 300 cup per hari dengan omset mencapai ratusan juta tiap bulannya. Bahkan untuk mendongkrak omset, Astrid juga menerima pesanan untuk berbagai kegiatan seperti catering, wedding, maupun gathering. “ Untuk pemesanan kita menyediakan cup khusus yang lebih kecil seharga 40 ribu per cup dengan pembelian minimal 100 cup,” jelasnya.

Food Truck. Semua kesuksesan yang diraih dalam waktu yang relative singkat tidak membuat Astrid cepat merasa puas. Astrid beregas mempersiapkan ekspansi usaha dengan mengusung konsep food truck. Menurutnya dengan konsep food truck, selain bisa menjangkau lokasi yang sulit juga untuk mencari spot-spot potensial untuk mrndirikan gerai The Halal Boys kedepannya. “Akhir tahun ini 1 unit food truck sudah siap untuk beroperasi, jika mendapat respon yang positif mungkin akan saya tambah lagi tahun depan,” ujarnya. Selain food truck, Astrid juga berencana untuk melebarkan sayap usaha dengan membuka gerai di Bandung, Surabaya, dan Bali.

Seiring semakin dikenalnya The Halal Boys, tawaran kerja sama juga mulai banyak bermunculan. Astrid mengatakan banyak pelanggan yang tertarik untuk menjadi mitra The Halal Boys. Meski begitu Astrid tidak ingin terburu-buru menerapkan kerja sama waralaba bagi pelanggan yang tertarik menjadi Terwaralaba The Halal Boys. Pasalnya Astrid mengaku belum paham dengan sistem waralaba itu seperti apa, Astrid ingin mempersiapkan sesuatunya terlebih dahulu. “Saya sedang mencari konsultan franchise untuk belajar bagaimana mewaralabakan suatu usaha,” ujarnya.

Kendala dan Promosi. Disinggung soal kendala, Astrid mengaku tidak ada kendala berarti selama The Halal Boys. Hanya saja karena mengusung tema outdoor maka cuaca menjadi kendala yang tidak dapat dihindari. Astrid mengaku di musim hujan seperti sekarang ini The Halal Boys mengalami penurunan penjualan.

Sedangkan untuk promosi, Astrid masih mengandalkan promosi melalui media social, website, hingga kerja sama dengan radio dan blogger kuliner. “Saat ini saya sedang aktif promosi dengan mengikuti bazar di mal-mal, kedepannya saya juga berencana untuk memasang iklan di media cetak,” tutupnya.

Baca Juga ; Kisah Sukses Black Garlic, Baru Setahun Omset Rp 75 Juta perbulan

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *