Pengertian Osteoporosis dan Penyebabnya


Pengertian Osteoporosis dan Penyebabnya – Seiring dengan bertambahnya usia, massa tulang Anda akan semakin berkurang sehingga, secara otomatis kalsium pada tulang Anda juga akan berkurang. Akibatnya, tulang akan menjadi semakin lemah dan risiko untuk terkena pengeroposan tulang (osteoporosis) pun semakin besar. Sebanyak 40 persen wanita kulit putih usia 50 tahun atau lebih akan mengalami retak tulang panggul, pergelangan tangan atau tulang bagian lainnya karena penipisan tulang yang akan terjadi sampai di titik tertentu dalam hidup mereka.

Osteoporosis sendiri terdiri dari dua kata, osto dan porosis. Osto berarti tulang dan porosis berarti keropos. Jadi, osteoporosis adalah suatu kondisi berkurangnya massa tulang secara nyata yang berakibat pada rendahnya kapadatan tulang.[1] Akibatnya, tulang menjadi keropos dan rapuh. Tulang yang mudah patah akibat osteoporosis adalah tulang belakang, tulang patah dan tulang pergelangan tangan. Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan bahwa osteoporosis merupakan penyakit kelainan metabolic tulang yang ditandai dengan berkurangnya kepadatan tulang secara progresif. Kerapuhan tulang terjadi jika masa tulang mulai berkurang, sehingga tulang menjadi rapuh dan keropos.

Tulang normal dibentuk oleh protein yang disebut kolagen serta mineral kalsium. Osteoporosis menyebabkan terjadinya kekosongan deposit kolagen dan kalsium pada tulang. Akibatnya, proses pembentukan lapisan tulang terhenti sementara proses penipisan terus berlangsung.

Pada tulang normal, proses pembentukan dan penipisan tulang selalu terjadi secara terus menerus. Hal ini bertujuan untuk menjaga massa tulang agar tidak terlalu berat sehingga tidak mengganggu proses pergerakan. Seperti disebutkan di atas, pada osteoporosis, proses pembentukan terhenti sementara proses penipisan berlangsung terus-menerus.


Tulang yang tipis akan sangat lemah dan mudah patah, bahkan dengan benturan yang ringan sekalipun. Pada tulang normal, benturan semacam ini tidak akan menyebabkan apa-apa. Hampir semua tulang mengalami hal ini termasuk tulang rusuk, panggul dan pergelangan tangan.

Pengertian Osteoporosis dan Penyebabnya
Osteoporosis terjadi ketika struts yang membentuk struktur mesh – seperti dalam tulang menjadi tipis, yang menyebabkan tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Osteoporosis biasanya diawali dengan adanya benjolan kecil karena adanya ketidakseimbangan antara resorpsi tulang dengan formasi tulang. Jadi, bila penghancuran lebih banyak daripada pembentukan, tulang akan menjadi keropos. Sebagian faktor penyebab osteoporosis bisa dicegah tetapi sebagian lainnya tidak bisa, misalnya faktor usia, yaitu usia di atas 50 tahun dan jenis kelamin.

Dengan bertambahnya usia, risiko terjatuh dan patah tulang menjadi semakin besar. Ini bisa disebabkan oleh faktor lingkungan, misalnya permukaan tanah yang tidak rata, naik tangga atau tersandung. Sedangkan untuk faktor jenis kelamin, wanita lebih berisiko mengalami osteoporosis dibandingkan pria. Hal ini disebabkan oleh massa tulang wanita yang relatif lebih sedikit dan mengalami pengurangan yang lebih besar dibandingkan pria.

Sebagian besar penderita osteoporosis adalah wanita yang telah mengalami menopause. Hal ini diyakini sangat dipengaruhi oleh hormone esterogen yang merupakan bahan yang sangat penting untuk mempertahankan massa tulang. Pada wanita yang sudah mengalami menopause, produksi hormone ini sangat berkurang sehingga mempercepat terjadinya pengurangan massa tulang. Tanpa pencegahan yang efektif, seorang wanita bisa kehilangan 20-30% massa tulangnya pada 10 tahun pertama memasuki masa menopause. Proses terjadinya osteoporosis bisa berlangsung tanpa terdeteksi dan dalam jangka waktu yang lama. Tidak sedikit wanita yang mengabaikan hal ini karena mereka memang tidak merasakan apa-apa hingga terjadinya gejala patah tulang yang disebabkan oleh sebuah trauma jaringan.

Selain dua penyebab diatas, berikut adalah beberapa penyebab lain dari osteoporosis :[2]

  • kekurangan hormone esterogen,
  • mengalami pengangkatan Rahim/ovarium,
  • kurang kalsium,
  • kurang sinar matahari dan vitamin D,
  • riwayat keluarga,
  • perawakan kurus, tulang kecil,
  • orang Asia lebih berisiko dibanding orang Eropa,
  • peminum kopi dan minuman bersoda,
  • kadar testosterone rendah pada pria,
  • gaya hidup tidak aktif,
  • penggunaan jangka panjang glukokortiroid, yaitu obat-obatan yang diresepkan untuk banyak penyakit, termasuk radang sendi, asma dan lupus; obat anti-kejang; gonadotropin yang melepaskan hormone untuk pengobatan endometriosis; aluminium yang mengandung antasida; pengobatan kanker tertentu; dan hormone tiroid berlebihan,
  • merokok, serta terlalu banyak mengonsumsi alcohol