Peluang Cerah Budidaya Cacing, PERMINTAAN EKSPOR SANGAT TINGGI

  • Modal Minim, Untung Besar

Dewasa ini budidaya cacing kandang merupakan salah satu peluang usaha bidang agribisnis yang wajib digarap karena memiliki celah pasar yang sangat potensial. Pangsa pasarnya yang luas dan besar merupakan sebuah peluang emas. Selain itu cara budidayanya yang tak terlalu sulit merupakan kelebihan, maka tak heran pembudidaya cacing kandang mempu mengantongi omset hingga jutaan rupiah setiap kali panen dengan keuntungan bersih di atas 50%. Seperti apa prospek dan lika liku budidaya cacing kandang?

Memasuki era modern kini cacing tak lagi dibudidayakan pada media tanah secara langsung namun sudah berubah pada metode budidaya dalam kandang yang jauh lebih efisien. Cacing merupakan salah satu hewan yang berasal dari ordo Haplotaxida, dan masuk golongan hewan invertebrata (tidak bertulang belakang), berdasarkan jenisnya cacing diklasifikasikan menjadi 4 jenis yaitu cacing tiger Eisenia fetida, cacing biru Feryonix dan cacing ANC atau cacing kristal africanightcrwler. Dari masing-masing jenis tentunya memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan. Namun secara garis besar ke 4 jenis cacing tersebut bisa di olah menjadi komoditi dengan nilai jual tinggi seperti untuk pakan ternak dan obat-obatan.

Pada umumnya cacing kandang mempunyai bentuk tubuh pipih, berwarna merah kecokelatan, memiliki segmen sekitar 90-195 dan memiliki klitelum yang terletak pada segmen 27-32. Jika dibudidayakan dalam sistem kandang maka tubuh cacing mampu tumbuh lebih besar, cepat dan teratur. Selain mampu membuat cacing tumbuh lebih besar, penggunaan metode kandang juga dipercaya bisa membuat cacing berkembang biak hingga dua kali lipat lebih banyak. Adapun manfaat yang terdapat pada cacing adalah dapat membantu mengolah sampah dapur menjadi pupuk karena sangat baik bagi pertumbuhan tanaman sayur atau buah. Cacing mempu mengolah bahan organik yang dimakan menjadi kotoran, dimana kotoran tersebut bisa menjadi pupuk organik (kascing) yang mampu merangsang pertumbuhan tanaman secara maksimal tanpa efek samping.

Kandungan urea dalam urine cacing adalah pupuk alami, terlebih cacing mengandung nitrogen, fosfor, magnesium, potasium dan kalsium yang penting untuk pertumbuhan tanaman. Maka tak heran belakangan ini banyak petani sayuran dan buah yang menggunakan kascing (kotoran cacing) sebagai pupuk organik bagi tanaman mereka. Indeks tanaman sehat salah satunya yaitu terdapat cacing berukuran gemuk dalam jumlah banyak, karena penggemburan tanah hal itu bisa dibuktikan dari kebiasaan cacing yang suka menggali tanah sehingga menciptakan sistem drainase alami yang mampu meningkatkan jumlah udara dan air dalam tanah yang membuat tanah bisa menjadi lebih gembur dan baik untuk ditanami.

Ditelaah dari segi khasiat yang terkandung, tubuh cacing terdiri atas 70% protein dan merupakan salah satu sumber makanan bergizi tinggi untuk hewan ternak seperti ayam, bebek, ikan, sidat dan burung. Selain untuk hewan, jika diolah dengan baik cacing juga kaya manfaat bagi kesehatan manusia. Cacing tanah yang dibersihkan bisa mengobati tifus karena dapat menghambat pertumbuhan bakteri salmonela, yang biasanya mengganggu thyphosa pencernaan manusia. Untuk mengonsumsinya cacing bisa direbus setelah dibersihkan isi perutnya lalu masukan ke dalam kapsul. Pengobatan tifus menggunakan cacing telah diakui oleh para ahli farmakologi.

Selain dapat menyembuhkan tifus, cacing tanah juga bisa menjadi obat diare karena cacing merupakan antibakteri terhadap bakteri escherichia coli dan Shigella penyebab diare disnetri. Mengonsumsi cacing yang telah diolah dengan baik juga mampu membantu melancarkan sirkulasi darah, melancarkan pencernaan, antipiretik, bisa menenangkan energi, menjaga kesehatan kulit dan mampu menyembuhkan luka.

Prospek dan Persaingan. Menurut Eza Adhitama dan Deden Sabarudin pelaku usaha budidaya cacing kandang asal Jawa Barat, ke depannya prospek usaha cacing akan cerah seiring tumbuhnya konsumsi masyarakat terhadap produk kesehatan dan kecantikan berbahan dasar cacing. Setiap bulannya permintaan cacing untuk memenuhi kebutuhan kedua jenis produk tersebut hingga mencapai 20 ton lebih. Permintaan tertinggi justru datang dari luar negeri seperti dari Malaysia, Tiongkok dan Korea Selatan. Diakui Deden di ketiga negara tersebut cacing akan diolah menjadi produk kosmetik dan kesehatan.

Hal itu menunjukkan bahwa komoditi cacing memiliki prospek yang cerah dan pangsa pasarnya terbuka lebar, terlebih mampu menembus pasar internasional. Dalam hal persaingan usaha bisa dibilang masih sangat minim, itu disebabkan komoditi cacing pernah jatuh di akhir tahun 90-anakibat krisis moneter sehingga hingga saat ini masih sedikit pelaku usaha budidaya cacing yang kembali menyelami bisnis hewan tak bertulang belakang ini. Memasuki tahun 2007 usaha cacing kembali menggeliat seiring berkembangnya bisnis kosmetik. Terlebih saat memasuki tahun 2010 di mana sudah banyak orang menggeluti bisnis herbal pembuatan obat kapsul untuk menyembuhkan penyakit tifus berbahan dasar cacing.

Budidaya Sistim Kotak. Sistem budidaya cacing yang baik menurut Bambang Sudibyo dosen Biologi Universitas Padjadjaran ialah dengan menggunakan sistem kotak bagi dua. Dengan cara tersebut jumlah produksi cacing bisa terdongkrak hingga 10 kali lipat ketimbang menggunakan cara lain. Di mana saat indukan cacing yang sudah berusia 3 bulan diletakkan pada media yang terbuat dari kotoran ternak maupun ampas organik yang di taruh pada terpal, lalu setelah 2 minggu di mana cacing sudah bertelur pisahkan indukan cacing dengan telur yang menempel pada media.

Biarkan telur menetas hingga menjadi cacing dewasa dan indukan cacing yang dipisahkan sudah bisa dipanen atau bisa kembali dibudidayakan lagi dengan memberikan media dan lakukan pemisahan kembali 2 minggu kemudian, kuncinya adalah harus fokus dan konsisten. Bisnis cacing merupakan usaha yang hanya perlu satu kali investasi untuk membeli bibit, karena cacing mudah beranak pinak dalam jumlah besar. Selain sebagai pencetus budidaya cacing menggunakan teknik kotak bagi dua, Bambang juga menyarankan bagi para pembudidaya agar produknya diolah sendiri menjadi kapsul atau pelet sehingga memiliki nilai jual yang tinggi.

Hingga detik ini peluang ekspor cacing memang sangat tinggi karena akan dibuat menjadi produk kosmetik, namun alangkah baiknya jika cacing di olah di dalam negeri dengan sistem yang terpadu, karena bisa menciptakan lapangan kerja yang berdampak positif terhadap perekonomian rakyat. Jika diteliti lebih dalam pemakaian cacing tak hanya untuk konsumsi manusia maupun hewan ternak semata, namun juga bisa dijadikan pengendali banjur karena bisa dijadikan verminpory. Verminpory ialah lubang biopory yang di isi cacing, sifat cacing yang gemar menggemburkan tanah akan sangat baik membantu membuat lorong bawah tanah sebagai resapan air.

Modal Minim. Modal awal yang dibutuhkan dalam budidaya cacing tergolong minim, untuk pemula bisa dilakukan dengan modal Rp. 5-8 juta. Modal tersebut cukup untuk dibelikan 10 kg cacing, membuat kandang dari bahan bambu atau kayu serta terpal, mempersiapkan media dan perawatan selama 3 bulan atau per sekali musim panen. Dengan menerapkan teknik kandang kotak bagi dua per sekali panen akan menghasilkan jumlah kuantitas cacing dengan kecepatan peningkatan yang signifikan sehingga omset dari penjualan tentunya akan cepat bertambah seiring jumlah cacing yang juga terus mengalami peningkatan.

Cacing termasuk hewan yang kebal terhadap berbagai macam penyakit sehingga budidaya cacing sangat minim risiko kegagalan akibat hama penyakit. Cacing memiliki imunitas tubuh yang sangat kuat sehingga mampu menangkal berbagai macam penyakit mesti habitat aslinya berada di lingkungan kotor. Kematian cacing dalam budidaya biasanya disebabkan oleh salahnya sistem pemeliharaan, seperti pemberian pakan yang dilakukan secara terus menerus tanpa memerhatikan kondisi media.

Pakan yang baik diberikan pada cacing berupa ampas organik, bisa dengan ampas tahu, ampas singkong atau ampas tebu. Dalam 1 hari sebaiknya cacing diberikan pakan 1 kali, pemberian pakan berikutnya bisa dilakukan jika sisa pakan sebelumnya telah benar-benar habis. Karena jika tidak akan mengundang hewan lain seperti belatung hidup di media tempat berkembang biaknya cacing.

Pemasaran Efektif. Agar hasil budidaya cpeat terserap dan dikenal luas oleh pasar, Deden Sabarudin menyarankan agar pada saat memulai usaha meminta bantuan pemerintah dalam hal ini dinas pertanian untuk dijadikan partner binaan, selain juga akan dibantu pemasaran seperti mengikuti pameran di dalam maupun luar negeri dengan biaya dan akomodasi ditanggung pemerintah. Menurut Deden ajang pameran merupakan sebuah kesempatan besar merebut pasar ketimbang melakukan pemasaran sendiri di media sosial internet. Harga 1 kg cacing hidup dewasa usia 3-4 bulan berkisar Rp. 50-60 ribu/kg, sedangkan jika untuk dijadikan cacing umpan berada di kisara Rp. 40 ribu/kg.

Kunci Keberhasilan. Meski cacing bisa hidup di segala macam ketinggian dengan suhu panas maupun dingin namun jika tidak dipelihara dengan manajemen yang baik akan berdampak pada kematian. Sebaiknya letakkan kandang pada posisi yang tak langsung tekena sinar matahari. Berikutnya gunakan media dari ampas organik jika cacing ingin diolah menjadi produk konsumsi manusia dan gunakan media dari kotoran hewan jika cacing ingin diolah menjadi umpan ikan. Pakan yang diberikan tak perlu harus dfermentasi karena menyita waktu dan akan berdampak sama saja pada pertumbuhan cacing. Terakhir cacing indukan usia 3-4 bulan yang sudah diletakkan pada kandang pembesaran 1, pindahkan ke kandang pembesaran 2 setiap 2 minggu sekali tanpa harus memindahkan medianya. Karena di media yang terdapat di kandang pembesaran 1 yang tak ikut di pindahkan terdapat telur-telur cacing yang siap menetas.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *