Jumpsuit Anak dengan Ciri Khas Aksen Kain Nusantara


  • Pemasaran Seluruh Indonesia
  • Omset Rp. 36 Juta, Untung 65%

Perkembangan fesyen saat ini memang sangat pesat, walaupun trennya selalu berubah dengan banyaknya perkembangan. Tren busana jumpsuit misalnya yang mengalami perkembangan pesat. Biasanya busana jumpsuit dikenakan oleh kalangan wanita dewasa, namun di tangan Herlina Trisnaningsih, busana jumpsuit bisa dikenakan anak-anak, tanpa menghilangkan ciri khas mereka. Ditambah dengan aplikasi aksen kain nusantara, membuat produk-produknya kian digemari konsumen hingga seluruh Indonesia, seperti apa prospeknya?

Berawal dari kecintaan terhadap anak-anak dan segala pernak perniknya, Herlina Trisnaningsih memutuskan untuk memulai bisnis baju anak. Dalam menjalani bisnis Little Zee, anak kedua dari dua bersaudara ini mengalami kendala, salah satunya adalah modal. Mengawali usaha ini, Erlin mengeluarkan biaya sebesar Rp. 46 juta yang digunakan membeli bahan baku, mesin jahit, mesin obras, overdeck, pelubang, mesin potong, sewa tempat dan biaya operasional awal dengan 2 orang pegawai. Erin meminjam modal usahanya dari Bank Mandiri, karena ia merupakan miitra binaan Bank Mandiri.

Meskipun tidak memiliki skill menjahit pakaian, namun Erlin unggul dalam keterampilan menggambar desain, kemampuan tersebut diperoleh Erin secara otodidak, karena memang passio-nya di dunia fesyen dan home living. Selain itu, ia juga pernah mengikuti kursus yang diadakan oleh Kemenperin, kursus tersebut diadakan hanya 3 hari dan free bahkan diberi uang saku.

Dalam menjalankan usaha baju anak ini persaingan pasti ada.”Kompetitor untuk produk baju anak ini malah datang dari produk internasional seperti Pierre Cardin, Gap, Polo dan kalau lokal juga yang kelasnya garmen,”ujar Erlin. Cara menghadapi pesaingnya, ia terus menggali keunikan desain dari produknya, dengan memiliki line design atau jati diri yang jelas.


Jumpsuit Aksen Kain Nusantara. Berkonsep anak-anak, tak heran jumpsuit buatan Erin lebih didominasi warna-warna cerah yang ceria. Dari segi desain memang ia tak jauh berbeda dari jumpsuit dewasa. Namun agar lebih terkesan muda, ia memberikan aksen-aksen seperti bunga, renda, hingga ruffle agar tak terkesan monoton.”Saya tidak ingin menghilangkan kesan anak-anaknya. Jadi saya pun membuat jumpsuit dengan model dan warna khas anak-anak,”jelasnya.

Dari setiap tren model, Little Zee lebih fokus pada kenyamanan pemakaian, simple dan keunikan desain. Untuk busana jumpsuit anak-anak, yang banyak diminati konsumen adalah jumpsuit lengan panjang dengan dua perpaduan warna ditambah aksen ruffle di bagian dada dan ikat tali di bagian perut. Biasanya jumpsuit model ini dikenakan sebagai busana hijab anak-anak.

Diakui ibu dua anak ini, tak jarang beberapa produknya kurang laku di pasaran, oleh karena itu biasanya ia menggunakan siasat dengan memutar stok dari satu toko ke toko lainnya atau dengan membuat sale di online seperti Facebook atau instagram.”Yang terpenting produk saya abis stoknya, jadi bisa membuat desain baru yang lebih fresh. Dari situ pun saya bisa tahu desain seperti apa yang disukai ataupun tidak disukai oleh konsumen,”terangnya.

Proses Produksi. Sebagai owner Little Zee, wanita kelahiran 37 tahun lalu ini, sebelumnya tidak mempunyai keterampilan khusus dalam membuat produk busana fesyen, hanya saja ia dibantu oleh orang-orang yang kompeten di bidangnya seperti kepala produksi, para penjahit dan tim finishing. Erlin hanya mendesain produk dan memilih bahan yang digunakan dalam produksi.

Peralatan yang dibutuhkan dalam memproduksi produk Littel Zee yakni mesin jahit, mesin obras dan gunting yang dibelinya di supplier mesin di kota Bandung dengan harga sekitar Rp. 3 juta – Rp. 5 juta per unit. Sedangkan bahan baku seperti kain, benang, dibeli di pusat garmen Bandung. Dalam sebulan Erlin mengeluarkan uang hingga Rp. 0 juta tergantung kebutuhan. Dari pengeluaran tersebut, Erin mampu memproduksi 800 pieces baju anak.

Tahap pembuatan produk Littel Zee dimulai dari mendesain setelah itu membuat sampling. Tahap selanjutnya adalah fitting model, barulah desain produk tersebut di-approval. Jika desain produk sudah benar, proses produksi dilanjutkan dengan membuat pola pada kain, proses cutting hingga penjahitan dan finishing. Saat ini Erlin memiliki 10 orang karyawan yang direkrut dari akses pertemanan dan persaudaraan dengan gaji antara Rp. 1 juta sampai Rp. 4 juta per orang.

Promosi dan Pemasaran. Dalam memperkenalkan produknya di awal usaha, Erlin menggunakan media online seperti membuat website dan akun facebook. Dengan cara ini menurutnya sangat mudah dan efektif karena tidak membutuhkan keahlian khusus, cukup mengerti cara menggunakan gadget dan juga tidak menyita banyak waktu.

Produk Little Zee ini menyasar ke kelas menengah ke atas karena harganya sesuai dengan kualitas barang yang Erlin produksi. Produk Little Zee juga banyak dipesan supplier untuk di pasarkan ke departement store dengan pembagian hasil 35% sampai dengan 48%.

Dari semua sistem pemasaran yang dikerjakannya, dalam sebulan Little Zee mampu menjual 800 produk dengan rata-rata harga jual 200 ribu rupiah, sehingga bisa dihitung mampu meraup omset hingga Rp. 160 juta. Permintaan terbanyak biasanya terjadi jelang lebaran dan akhir tahun, biasanya penjualan meningkat sampai 4-5 kali lipat. Ke depannya Erlin ingin menjadikan Little Zee brand yang kuat dan dikenal oleh masyarakat luas, produk yang diciptakannya tak lekang oleh waktu, pemasarannya lebih luas lalgi dan memiliki garmen merupakan obsesi Erlin dalam membangun usaha ini ke depannya.