> Hasilkan 50 kg Cacing Jenis Lumbricus Tiap Minggu | infoloka.com

Hasilkan 50 kg Cacing Jenis Lumbricus Tiap Minggu

  • Untung hingga 88%

Mendengar nama cacing pasti yang terlintas dalam benak adalah kotor. Sosok hewan lunak ini ternyata mengandung protein yang sangat tinggi, yakni cacing jenis Lumbricus selain kaya protein cacing ini juga memiliki pangsa pasar yang potensial dengan harga jual tinggi. Bahkan kini mulai banyak orang yang mencari cacing kandang sebagai pakan ikan, farmasi dan kosmetik. Cacing Lumbricus bisa dibudidayakan dengan menggunakan wadah keranjang buah atau wadah bambu. Tak heran cacing kandang ini sudah mulai banyak diternakkan, seperti yang dilakukan Erza Ahitama. Sejauh mana peluang bisnis yang bisa diambil dan bagaimana prospeknya ke depan?

Budidaya cacing masih terdengar asing di telinga banyak orang karena bentuknya yang kecil dan memanjang. Namun jika dibudidayakan dengan baik cacing jenis Lumbricus rubellus dapat memiliki nilai jual potensial yang sangat bermanfaat untuk menopang perekonomian. Belum banyak orang yang melirik usaha dibidang agribisnis budidaya cacing, padahal memiliki prospek cerah karena sasaran konsumennya luas salah satunya di bidang farmasi, kosmetik, maupun pakan ternak alami.

Apabila diulas secara gamblang, ternyata cacing memiliki banyak keunggulan yaitu dapat meningkatkan ketahanan tubuh manusia serta mengandung protein yang tinggi berdasarkan penelitian ilmiah para ahli. Cacing Lumbricus bisa dibudidayakan menggunakan kandang persegi panjang karena hewan lunak ini memiliki bentuk tubuh pipih dan bergerak dengan menggunakan alat gerak yaitu setae yang berbentuk seperti rambut kasar. Perawatannya pun cukup simple hanya membutuhkan wadah atau kotak yang tidak terpakai, dan keuntungan lainnya bisa dibudidayakan di lahan sempit.

Erza Adhitama melihat peluang bisnis budidaya cacing masih terbuka lebar karena sangat jarang orang yang membudidayakannya. Awal perkenalan pria yang akrab disapa Erza ini dengan cacing di mulai ketika ia melihat pembudidaya cacing di kota Cipanas, Jawa Barat. Erza langsung tertarik membudidayakan cacing tersebut dengan wadah kotak di atas lahan sempit. Tepatnya akhir tahun 2014, Erza menggelontorkan modal awal sebesar Rp. 6,5 juta yang diambil dari tabungan pribadiny.”Modal tersebut saya membelikan 30 kg cacing jenis Afrika, Tiger dan Lumbricus serta untuk membuat kandang ukuran 1,2 m x 4 m sebanyak 3 tingkat di dekat rumah,”jelas pria kelahiran Bontang, 26 Juli 1979 ini.

Saat itu Erza mengaku tak memiliki pengetahuan memadai soal seluk-beluk ternak cacing, ia hanya mengandalkan pembelajaran ternak secara otodidak dari referensi internet. Karena minimnya pengetahuan, Erza pun mengalami masalah dalam usahanya karena cacingnya banyak mengalami penyusustan disebabkan cacing tidak berkembang biak dan mati. Namun kegagalan tersebut tak membuatnya berhenti belajar dan berusaha, ia pun mengganti media cacing dengan menggunakan ampas jamur yan mengandung protein tinggi. Langkah tersebut terbukti nyata dalam memajukan usaha budidaya cacingnya. Dari mulai bibit cacing sudah bisa bertelur dan dipanen setelah usia 3 bulan.

Prospek Usaha. Berbicara prospek usaha ke depannya menurut Erza, usaha cacing kandang akan cerah, mengingat kebutuhan bahan baku pabrik farmasi, kosmetik dan pakan alami yang terus mengalami peningkatan. Menurut pria lulusan Universitas Indonesia tersebut sampai dengan hari ini ia masih belum bisa memenuhi semua permintaan konsumen yang rata-rata mencapai 1.000 kg per minggu. Menyiasati hal itu, Erza terus mengembangkan lahan budidayanya dan membeli cacing dari rekan usahanya demi memenuhi permintaan. Intinya budidaya cacing peluang usahanya sangat besar dengan harga jual yang cukup tinggi di tengah pelaku usahanya yang jumlahnya masih amat sedikit.

Terlebih cacing jenis Lumbricus ini memiliki beberapa kelebihan dibandingkan pakan kimia karena tidak mengandung racun atau bahan aditif (pewarna dan pengawet) yang bisa memiliki efek samping. Selain itu cacing jenis Lumbricus juga bisa dijadikan pakan untuk segala jenis hewan unggas dan ikan konsumsi seperti nila. Cacing tanah menyimpan banyak khasiat yang mampu menyembuhkan beberapa macam penyakit, tanpa efek samping. Hal ini karena kandungan protein cacing yang sangat tinggi yakni mengandung sekitar 76% kadar protein. Kadar ini lebih tinggi dibandingkan daging mamalia (65%) atau ikan (50%).

Bahan Baku dan Alat.

Dalam memulai usahanya Erza mengaku membeli indukan cacing di daerah Cipanas, Jawa barat. “Waktu pertama saya membeli 30 kg gabungan dari 3 jenis cacing dengan harga Rp. 70 ribu per kilo. Sementara untuk kandang saya buat 3 tingkat menggunakan kayu yang di tutup terpal serta menggunakan puluhan keranjang buah bekas,”tuturnya.

Dalam menjalankan usaha ternak cacing jenis Lumbricus Erza tak memerlukan peralatan dan perlengkapan modern. Ia hanya mengandalkan wadah pemeliharaan dari material yang sangat sederhana seperti terpal dan kayu yang bisa dibeli di material. Selama proses budidaya Erza mengaku dibantu oleh seorang sahabatnya.

Pemasaran.

Sejak awal usaha Erza berusaha mencari pasar terlebih dahulu dengan cara menyebarkan promosi di dunia internet dan Sentar pemancingan di daerah Parung, Jawa Barat. Seiring berjalannya waktu kini Erza memiliki konsumen yang telah menjadi langganan berjumlah sekitar puluhan orang yang tersebar mulai dari daerah Parung, Pamulang dan Jabodetabek. Untuk pemesanan, untuk order calon konsumen bisa datang langsung ke rumahnya maupun menelpon Erza terlebih dahulu agar cacing dikemas dengan menggunakan keranjang buah yang sudah diisi dengan baglog jamur, dan dibalut lagi menggunakan kain haijet.

Dalam sistem pemesanan Erza memberlakukan minimal order sebanyak 1 kg per setiap kali order.”Setiap kali pesan saya sengaja memberikan minimum order untuk mengimbangi biaya ongkos kirim, kalau sistem pembayaran saya terapkan cash,”pungkas Erza. Dengan ongkir di tanggung konsumen, jika order datang dari kota yang jauh Erza tak segan memakai jasa kargo udara demi menjaga kualitas produk.

Rencana ke Depan.

Ke depannya, Erza ingin memperluas wilayah pemasaran hingga tingkat nasional. Erza juga ingin mengelola hasil budidaya cacing menjadi produk farmasi secara mandiri.

Selanjutnya, Erza mengatakan hampir tidak menemukan kendala dalam membudidayakan cacing baik secara teknis maupun lapangan. Namun yang namanya orang usaha atau budidaya tak berarti luput dari masalah. Erza terus meningkatkan pemeliharaan cacingnya supaya mendapatkan panen yang lebih baik. Saat ini persaingan di dunia budidaya cacing masih belum keliatan karena pembudidaya cacing masih jarang pelakunya.

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *