> Dua Bulan Omset Rp 40 Juta Nasi Kebuli dalam Rice Bowl | infoloka.com

Dua Bulan Omset Rp 40 Juta Nasi Kebuli dalam Rice Bowl

Ingin membuat sesuatu yang beda dan memberikan pilihan pada para pecinta kuliner, mengantarkan Ita Istriana Subono membangun bisnis dengan brand Mas Beibs. Usaha kuliner Nasi Kebuli yang ditawarkan memiliki banyak perbedaan cara pemesanan dan penyajiannya. Ya, dengan konsep jualan online Ita mencoba menyajikan menu Nasi Kebuli yang dikemas menggunakan mangkuk khusus (bowl) sehingga bisa sampai ke tangan konsumen tanpa mengubah cita rasa. Walau baru dirintis dua bulan, namun usaha yang dibangun Ita bisa meraup omset Rp 40 juta per bulannya. Dimana keunikan Nasi Kebuli yang satu ini?

Kesibukan bekerja, terkadang membuat banyak orang tak sempat meninggalkan kantor meski hanya untuk makan siang. Karena itu, usaha kuliner yang menawarkan jasa pesan antar menjadi pilihan utama. Namun menu yang itu-itu saja, terkadang membuat konsumen mudah bosan dan ingin mencari sesuatu yang berbeda. Hal itulah yang mendorong Ita Istriana Subono terjun ke usaha kuliner Nasi Kebuli dengan brand Mas Beibs pada September 2015. “Kita hadir untuk memberikan pilihan konsumen yang sibuk dan tidak sempat keluar kantor untuk makan siang,” ujarnya

Baca Juga : Kisah Sukses Nasi Kucing Juara, Mulai dari Sistem Gerai Berjalan Hingga Rice Bowl

Untuk mendukung konsep on delivery, Nasi Kebuli Mas Beibs dikemas dalam sebuah mangkuk plastic khusus sehingga tidak mempengaruhi rasa di dalamnya. Modal yang digunakan Ita merintis usaha sekitar Rp 10 juta. Modal tersebut digunakan untuk membeli peralatan kebutuhan usaha mulaii dari bahan baku hingga alat masak. “Sebagian peralatan sudah saya miliki sedangkan sisanya saya beli yang baru,” ungkap Ita

Dua Bulan Omset Rp 40 Juta Nasi Kebuli dalam Rice Bowl

Dua Bulan Omset Rp 40 Juta Nasi Kebuli dalam Rice Bowl

Nasi Kebuli. Dipilihnya Nasi Kebuli sebagai menu utama diakui Ita karena masih jarang dijual oleh pelaku usaha lain sebagai menu sarapan maupun santap siang. Sehingga menu Nasi Kebuli yang ditawarkan bisa menjadi pembeda dan ciri khas dari usaha yang dijalankan.

Bila dilihat Nasi Kebuli Mas Beibs memiliki tampilan hamper sama dengan nasi kebuli pada umumnya. Namun perbedaan akan terasa ketika nasi kebuli disantap memiliki tekstur nasi yang pulen serta tidak adanya rasa kambing seperti nasi kebuli pada umumnya. “Nasi Buatan saya tidak mencampurkan daging kambing dalam proses pengolahan, karena tidak semua orang suka daging kambing,” jelasnya.

Sebagai gantinya, nasi kebuli Mas Beibs menawarkan tiga varian menu yang tidak kalah nikmatnya. Yaitu menu Nasi Kebuli Ayam, Nasi Kebuli Rendang, dan Nasi Kebuli Kornet Keju. Sebagai tambahan dan untuk mempercantik tampilan­­­­­­­, Ita menambahkan Daun Kol yang diiris, Bawang Goreng, Acar, Sambal dan Emping.

Harga satu porsi Nasi Kebuli tergantung varian yang dipilih, seperti Nasi Kebuli Ayam dijual dengan harga Rp 25 ribu, Nasi Kebuli Rendang Rp 27.500 dan Nasi Kebuli Kornet Keju Rp 25 ribu. Menurut Ita, harga Nasi Kebuli yang dijualnya terjangkau semua kalangan. Apalagi jika dilihat dari bahan yang digunakan merupakan bahan yang berkualitas. “Dari 3 menu yang ditawarkan Nasi Kebuli Kornet Keju menjadi primadona, dan agar konsumen tidak cepat bosan setiap 6 bulan sekali akan dilakukan pergantian menu,” tambah wanita 27 tahun ini.

Dengan berbagai keunggulan dan harga yang terjangkau, tidak heran bila nasi kebuli Mas Beibs menjadi pilihan. Karena itu, walaupun baru dua bulan didirikan namun usaha nasi kebuli Mas Beibs sudah bisa meraup omset hingga 40 juta per bulan. “Saya juga gak nyangka padahal baru dua bulan jalan, tetapi respon sudah begitu bagus dan omsetnya lumayan besar,” tuturnya.

Kendala Pengiriman. Dibalik pesatnya penjualan tiap bulan, Ita mengaku kerap mendapat kendala dalam menjalankan usahanya. Salah satunya dalam hal pengiriman Nasi Kebuli Mas Beibs pada para konsumen.

Karena masih baru dan belum memiliki armada delivery sendiri, Ita kerap menggunakan jasa pengiriman merasa kebingungan dan tidak enak pada konsumennya. Apakah menggunakan jasa pengiriman umum yang murah namun barang sampai dalam waktu yang lama atau jasa pengiriman khusus yang cepat antarkan barang ke tangan konsumen namun dengan biaya yang mahal. “Kita kan jualan masakan dan kebanyakan konsumen inginnya dalam keadaan hangat, sementara untuk menggunakan jasa pengiriman express harganya cukup mahal, jadi dilemma gitu,” ungkapnya. Namun karena biaya pengiriman ditanggung sepenuhnya oleh konsumen hal tersebut tidak terlalu mengganggu kelangsungan usahanya.

Bukan hanya itu, di usia usaha yang masih seumur jagung, Ita juga masih terkendala dalam hal sumber daya manusia (karyawan). Karena Karyawan yang dibutuhkan merupakan karyawan yang terampil dan ulet. “Saat ini sulit mencari SDM yang sesuai keinginan kita, jadi mau gak mau harus dilatih dan itu memakan waktu,” ujar Ita.

Karena berkonsep kuliner online, maka dalam memasarkan nasi kebuli Mas Beibs, lulusan Public Relation UPI YAI ini mengandalkan dunia online terutama media social yang saat ini banyak digunakan masyarakat seperti LINE maupun Instagram. Selain itu Ita juga menawarkan nasi kebuli buatannya secara langsung kepada teman, keluarga, dan juga kenalannya.

Baca Juga : Sukses dari Street Food dengan Konsep Rice Bowl

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *