> Budidaya Ulat Sutera | infoloka.com

Budidaya Ulat Sutera

Ulat sutera putih pemakan daun murbei jika dibisniskan ternyata memiliki peluang pasar yang masih potensial berupa produk ulat sutera seperti benang sutera. Peluang pasar yang masih luas untuk produk-produk yang dihasilkan dari ulat sutera mendorong Edi Yusuf untuk menjalankan bisnis ini sejak tahn 2009. Apalagi saat ini Indonesia masih merupakan negar importir sutera dari Tiongkok, terutama benang dan kain sutera karena pasokan dalam negeri yang belum mampu memenuhi permintaan pasar.

Ulat sutera yang termsuk ke dalam family Lepidoptera ini memiliki perkembangbiakan secara metamorphosis sempurna dimana terdapat tahapan siklus kehidupan dari telur-larva-pulpa dan akhirnya menuju ngengat atau kupu-kupu. Ketika telur ulat sutera menetas, maka akan keluar larva yang berwarna hitam, kemudian larva tersebut akan melewati beberapa instar sampai mengokon di usia 30/40 hari hingga menjadi pupa.

Tingkat pertumbuhan (instar) tersebut ditandai dengan adanya proses ganti kulit. Proses dari menetas sampai ganti kulit pertama disebut instar pertama. Ganti kulit kedua sampai ganti kulit ketiga disebut instar kedua dan seterusnya, Sutera dihasilkan dari kokon atau kepompong ulat sutera, yang bisa dipintal menjadi serat sutera. Selain bisa dimanfaatkan sebagai bahan kain sutera, kepompong ulat sutera atau disebut juga kokon dimanfaatkan dalam dunia kecantikan yaitu sebagai bahan pembersih kulit (scrub) alami. Kokon mengandung protein yang bermanfaat bagi kulit dan asih banyak agi kelebihan ulat sutera. Pria yang akrab disapa Yusuf ini mengeluarkan modal awal pada 2009 kurang lebih Rp 6 juta yang digunakan untuk membeli benih ulat sutera seharga Rp 100 ribu sebanyak 3 box, masing-masing box ulat berisi 25 ribu telur ulat sutera yang dipelihara dari muai telur hingga menjadi pupa kepompong selama 1 bulan.

Yusuf memakai lahan pekarangan rumahnya seluas 1 ha untuk ditanami bibit pohon murbei. Bibit pohon murbei sebagai makanan ulat sutera dibeli Yusuf dengan modal sebesar Rp 3 juta, bahan dan perlengkapan Rp 2 juta, gaji 2 orang karyawan Rp 1,8 juta dan sisanya untuk membeli pupuk/desinfektan dan lain-lain.. Tak jauh dari rumahnya ada sebuah rumah kosong milik keluarganya yang digunakan Yusuf untuk memproduksi permintaan kokon benang. Yusuf menjual kokon ulat sutera seharga Rp 30 ribu per kg untuk wilayah Sukabumi dan harga untuk luar daerah Sukabumi Rp 35 ribu per kg.

Menurut Yusuf, sekarang ini sudah 6000 ekor ulat sutera dikandangnya. Satu kokon bisa menghasilkan 900-1500 meter panjang filamen, dengan menghasilkan benang 20 kg per bulan. Benang sutera merupakan produk oahan kokon melalui proses reeling (pemintalan). Proses ini dimulai dengan merebus kokon sampai dengan suhu 100 derajat celcius. Tujuannya adalah untuk menghilangkan zat serisin yang terdapat pada kokon sehingga filamennya dapat dengan mudah ditarik hingga menjadi benang.

Panen kokon harus dilakukan tepat waktu yaitu ketika kulit pupa sudah menjadi keras. Hal ini terjadi setelah 6 hari sejak ulat sutera mengokon. Jaangan melakukan panen kokon terlalu cepat atau lambat, kalau panen terlalu cepat, pupa masih berwarna kuning, kulitnya masih lunak. Apabila pupa ini terkena guncangan waktu panen, pupa akan pecah yang menyebabkan kokon menjadi kotor. Kalau terlalu lambat dikhawatirkan pupa sudah menjadi kupu-kupu dan keluar dari kokon, sehingga kokon menjadi berlubangdan tidak bisa terpakai. Setelah panen dilakukanm kokon harus segera dibersihkan dari serabut serat sutera yang menyelimuti kokon.

 

Sumber : Tabloid Peluang Usaha Edisi 07

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *